topbella

Rabu, 20 Desember 2017

Dengue Haemoragic Fever

  1. Asuhan Keperawatan pada Dengue Haemoragic Fever
1.      Pengkajian Fokus
Pengkajian fokus pada DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah yang pertama mengkaji riwayat keperawatan, apakah klien pernah di rawat sebelumnya dengan penyakit yang sama. Kemudian kaji adanya peningkatan suhu tubuh seperti adanya peningkatan yang drastis, suhu tubuh yang ekstrim yaitu 39-400 C, kaji adanya tanda tanda perdarahan, seperti perdarahan bawah kulit (petekie), epistaksis dan juga melena pada anak yang menderita DHF (Dengue Haemoragic Fever).
Pada nutrisi adalah kaji adanya mual dan muntah, tidak nafsu makan pada pasien. Pada pengkajian nyeri juga kaji nyeri pada pasien, provokatif, Quality, Region, Scale dan juga Time dari nyeri yang di rasakan oleh pasien, nyeri yang dirasakan pasien DHF biasanya dirasakan di ulu hati, kemudian kaji adanya nyeri pada otot dan sendi. Kaji juga adanya tanda tanda renjatan (denyut nadi cepat dan dapat pula lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab, terutama pada ekstremitas, terjadi sianosis tidak pada tubuh pasien, adanya gelisah dan penurunan kesadaran (Suriadi, 2006 ). 
a.       Identitas Pasien
Nama, umur (pada DHF, semua golongan umur dapat terserang DHF, meskipun berumur berapa hari setelah lahir), jenis kelamin (Sejauh ini tidak ditemukan perbedaan kerentanan terhadap serangan demam berdarah dikaitkan dengan perbedaan jenis kelamin), alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua.
b.      Keluhan utama
Alasan/ keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk datang ke rumah sakit adalah panas tinggi dan anak lemah.
c.       Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai mengigil dan saat demam kesadaran composmentis. Turunya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7, dan anak semakin lemah, kadang- kadang disertai dengan keluhan batuk, pilek, nyeri telan, mual, muntah, anorexia, diare/ konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati, dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV). Melena, atau hematemesis.
d.      Riwayat penyakit yang pernah diderita
 Penyakit apa saja yang pernah diderita, pada DHF, anak bisa mengalami serangan ulang DHF dengan tipe virus yang lain.
e.       Riwayat Imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
Pola Pengkajian Gordon
a.       Pola Manajemen kesehatan dan presepsi kesehatan
Manajemen dari keluarga untuk anak yang mengalami DHF (Dengue Haemoragic Fever), bagaimana tindakan yang dilakukan untuk mengatasi tanda dan gejala yang sedang dialami anak, bagaimana pencegahan dan penanganan yang tepat, kemudian presepsi keluarga terhadap penyakit anaknya berat atau ringan, perilaku apa saja yang memicu terjadinya penyakit DHF (Dengue Haemoragic Fever) karena sangat berpengaruh terhadap keputusan yang di ambil untuk kesehatan anak.
b.      Pola Metabolik – Nutrisi
Status gizi dan nutrisi anak yang menderita DHF (Dengue Haemoragic Fever) dapat bervariasi. Semua anak dengan status gizi yang baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor predisposisinya. Anak yang menderita DHF (Dengue Haemoragic Fever) sering mengalami keluhan mual, muntah, nafsu makan menurun. Apabila kondisi berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.
c.       Pola Eliminasi
Eliminasi alvi ( buang air besar ) kadang- kadang anak mengalami diare ataupun konstipasi. Sementara DHF (Dengue Haemoragic Fever) pada Grade III- IV bisa terjadi melena. Eliminasi urin (buang air kecil) perlu dikaji apakah sering terjadi hematuria.
d.      Pola Aktivitas- latihan
Kaji pasien mengenai aktivitas kehidupan sehari- hari, keyakinan tentang latihan dan olahraga, kemampuan untuk merawat diri sendiri, mandiri, bergantung, atau ketergantungan, penggunaan alat bantu (kruk).
e.       Pola istirahat dan tidur
Tidur dan istirahat anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami, sakit atau nyeri otot dan persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya berkurang.
f.       Pola presepsi dan kognitif
Pada tingkat pengetahuan termasuk dalam presepsi pasien dan juga keluarga pasien, faktor pendidikan mengenai DHF (Dengue Haemoragic Fever) sangat berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka wawasan yang dimilikinya akan semakin luas sehingga pengetahuan juga akan meningkat, sebaliknya ibu akan mempersempit wawasanya sehingga akan menurunkan tingkat pengetahuan terhadap masalah kesehatan terutama untuk penyakit DHF (Dengue Haemoragic Fever). Seseorang yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik merasa takut akan penularan terhadap penyakit DHF (Dengue Haemoragic Fever).
g.      Konsep diri- presepsi diri
Mengkaji pasien mengenai keadaan sosial (pekerjaan, situasi keluarga, kelompok sosial), identitas personal (penjelasan tentang diri sendiri, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki), keadaan fisik segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh yang disukai dan tidak, perasaan mengenai diri sendiri, ancaman terhadap diri sendiri (sakit, perubahan peran), riwayat berhubungan dengan masalah fisik dan atau psikologi.
h.      Pola hubungan- peran
Mengkaji pasien mengenai gambaran tentang peran berkaitan dengan keluarga dan teman, kepuasan dan ketidakpuasan menjalankan peran, efek terhadap status kesehatan, pentingnya keluarga, struktur dan dukungan keluarga, proses pengambilan keputusan keluarga, struktur dan dukungan keluarga, proses pengambilan keputusan keluarga, pola membesarkan anak, hubungan dengan orang lain, orang terdekat dengan klien, data pemeriksaan fisik yang berkaitan.
i.        Pola reproduksi- seksualitas
Mengkaji pasien mengenai masalah atau perhatian seksual, menstruasi, gambaran perilaku seksual yang aman, pelukan, sentuhan dll), pengetahuan yang berhubungan dengan seksualitas dan reproduksi, efek terhadap kesehatan, riwayat kesehatan yang berhubungan dengan masalah fisik dan atau psikologi, data pemeriksaan fisik yang berkaitan (KU, genetalia, payudara, rektum).
j.        Pola toleransi terhadap stress- koping
Mengkaji pasien mengenai sifat pencetus stress yang dirasakan baru- baru ini, tingkat stress yang dirasakan, gambaran respon umum dan khusus terhadap stress yang biasa digunakan, pengetahuan dan penggunaan teknik manajemen stress, hubungan antara manajemen stress dengan keluarga.
k.      Pola keyakinan nilai
Mengkaji latar belakang budaya atau etnik, status ekonomi (perilaku kesehatan yang berkaitan dengan kelompok budaya atau etnik), tujuan kehidupan bagi pasien, keyakinan dalam budaya mitos dan kepercayaan.
(Ariani, 2016)

2.      Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda vital suhu meningkat, tekanan darah pada DHF (Dengue Haemoragic Fever) akan meningkat, sedangkan pada Dengue Syok Syindrom (DSS) akan menurun, nadi pada DHF (Dengue Haemoragic Fever) takikardi, sedangkan pada DSS dapat cepat dan lelah serta ada proses penyembuhan bradikardi, pernafasan dapat normal dan meningkat, pada DSS cepat dan dangkal.

Pengkajian sistem tubuh meliputi integumen adanya ruam, petekie, ekimosis, purpura, hematom, hiperemi, sedangkan pada DSS dapat lembab, dingin, dan sianosis, pada hidung, kuku, kaki, dan tangan. Pemeriksaan mata apakah konjungtiva, hyperemia, lakrimasi, foto pobia. Sistem kardiovaskuler apakah DHF (Dengue Haemoragic Fever) dapat hipotensi dan hipertensi, takikardi dan bradikardi. Abdomen adanya hepatomegali, splenomegali dan nyeri tekan hepar, adanya nyeri sendi dan otot (Rita, 2006).

Selasa, 14 November 2017


KEJANG DEMAM

Konsep Dasar
Pengertian
       Istilah kejang demam digunakan untuk bangkitan kejang yg timbul akibat kenaikan suhu tubuh. Kejang demam ialah bangkitan kejang yg terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal 38(C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (Hasan, 1995).
Banyak pernyataan yang dikemukakan mengenai kejang demam, salah satu diantaranya adalah : Kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi pada umur 3 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus dapat dibedakan dengan epilepsi, yaitu ditandai dengan kejang berulang tanpa demam (Mansjoer, 2000).

Anatomi Fisiologi Sistem Persarafan
       Seperti yang dikemukakan Syaifuddin (1997), bahwa system saraf terdiri dari system saraf pusat (sentral nervous system) yang terdiri dari cerebellum, medulla oblongata dan pons (batang otak) serta medulla spinalis (sumsum tulang belakang), system saraf tepi (peripheral nervous system) yang terdiri dari nervus cranialis (saraf-saraf kepala) dan semua cabang dari medulla spinalis, system saraf gaib (autonomic nervous system) yang terdiri dari sympatis (sistem saraf simpatis) dan parasymphatis (sistem saraf parasimpatis).
Otak berada di dalam rongga tengkorak (cavum cranium) dan dibungkus oleh selaput otak yang disebut meningen yang berfungsi untuk melindungi struktur saraf terutama terhadap resiko benturan atau guncangan. Meningen terdiri dari 3 lapisan yaitu duramater, arachnoid dan piamater.
Sistem saraf pusat (Central Nervous System) terdiri dari :
Cerebrum (otak besar)
Merupakan bagian terbesar yang mengisi daerah anterior dan superior rongga tengkorak di mana cerebrum ini mengisi cavum cranialis anterior dan cavum cranialis media.
Cerebrum terdiri dari dua lapisan yaitu : Corteks cerebri dan medulla cerebri. Fungsi dari cerebrum ialah pusat motorik, pusat bicara, pusat sensorik, pusat pendengaran / auditorik, pusat penglihatan / visual, pusat pengecap dan pembau serta pusat pemikiran.
Sebagian kecil substansia gressia masuk ke dalam daerah substansia alba sehingga tidak berada di corteks cerebri lagi tepi sudah berada di dalam daerah medulla cerebri. Pada setiap hemisfer cerebri inilah yang disebut sebagai ganglia basalis.
Yang termasuk pada ganglia basalis ini adalah :
Thalamus
Menerima semua impuls sensorik dari seluruh tubuh, kecuali impuls pembau yang langsung sampai ke kortex cerebri. Fungsi thalamus terutama penting untuk integrasi semua impuls sensorik. Thalamus juga merupakan pusat panas dan rasa nyeri.
Hypothalamus
Terletak di inferior thalamus, di dasar ventrikel III hypothalamus terdiri dari beberapa nukleus yang masing-masing mempunyai kegiatan fisiologi yang berbeda. Hypothalamus merupakan daerah penting untuk mengatur fungsi alat demam seperti mengatur metabolisme, alat genital, tidur dan bangun, suhu tubuh, rasa lapar dan haus, saraf otonom dan sebagainya. Bila terjadi gangguan pada tubuh, maka akan terjadi perubahan-perubahan. Seperti pada kasus kejang demam, hypothalamus berperan penting dalam proses tersebut karena fungsinya yang mengatur keseimbangan suhu tubuh terganggu akibat adanya proses-proses patologik ekstrakranium.
Formation Reticularis
Terletak di inferior dari hypothalamus sampai daerah batang otak (superior dan pons varoli) ia berperan untuk mempengaruhi aktifitas cortex cerebri di mana pada daerah formatio reticularis ini terjadi stimulasi / rangsangan dan penekanan impuls yang akan dikirim ke cortex cerebri.
Serebellum
Merupakan bagian terbesar dari otak belakang yang menempati fossa cranial posterior. Terletak di superior dan inferior dari cerebrum yang berfungsi sebagai pusat koordinasi kontraksi otot rangka.
System saraf tepi (nervus cranialis) adalah saraf yang langsung keluar dari otak atau batang otak dan mensarafi organ tertentu. Nervus cranialis ada 12 pasa

About Me

Foto Saya
anggita priscillia
temanggung, temanggung jawa tengah, Indonesia
Orang aneh dan absurbd 😀
Lihat profil lengkapku