- Asuhan
Keperawatan pada Dengue Haemoragic Fever
1. Pengkajian Fokus
Pengkajian fokus
pada DHF (Dengue Haemoragic Fever)
adalah yang pertama mengkaji riwayat keperawatan, apakah klien pernah di rawat
sebelumnya dengan penyakit yang sama. Kemudian kaji adanya peningkatan suhu
tubuh seperti adanya peningkatan yang drastis, suhu tubuh yang ekstrim yaitu
39-400 C, kaji adanya tanda tanda perdarahan, seperti perdarahan
bawah kulit (petekie), epistaksis dan juga melena pada anak yang menderita DHF (Dengue Haemoragic Fever).
Pada nutrisi
adalah kaji adanya mual dan muntah, tidak nafsu makan pada pasien. Pada
pengkajian nyeri juga kaji nyeri pada pasien, provokatif, Quality, Region,
Scale dan juga Time dari nyeri yang di rasakan oleh pasien, nyeri yang
dirasakan pasien DHF biasanya dirasakan di ulu hati, kemudian kaji adanya nyeri
pada otot dan sendi. Kaji juga adanya tanda tanda renjatan (denyut nadi cepat
dan dapat pula lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab, terutama pada
ekstremitas, terjadi sianosis tidak pada tubuh pasien, adanya gelisah dan
penurunan kesadaran (Suriadi, 2006 ).
a.
Identitas Pasien
Nama, umur (pada
DHF, semua golongan umur dapat terserang DHF, meskipun berumur berapa hari
setelah lahir), jenis kelamin (Sejauh ini tidak ditemukan perbedaan kerentanan
terhadap serangan demam berdarah dikaitkan dengan perbedaan jenis kelamin),
alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang
tua.
b.
Keluhan utama
Alasan/ keluhan
yang menonjol pada pasien DHF untuk datang ke rumah sakit adalah panas tinggi
dan anak lemah.
c.
Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan
adanya keluhan panas mendadak yang disertai mengigil dan saat demam kesadaran
composmentis. Turunya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7, dan anak semakin
lemah, kadang- kadang disertai dengan keluhan batuk, pilek, nyeri telan, mual,
muntah, anorexia, diare/ konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian,
nyeri ulu hati, dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi
perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV). Melena, atau hematemesis.
d.
Riwayat penyakit yang pernah diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita, pada
DHF, anak bisa mengalami serangan ulang DHF dengan tipe virus yang lain.
e.
Riwayat Imunisasi
Apabila anak
mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan timbulnya komplikasi dapat
dihindarkan.
Pola Pengkajian Gordon
a.
Pola Manajemen kesehatan dan presepsi
kesehatan
Manajemen dari
keluarga untuk anak yang mengalami DHF (Dengue
Haemoragic Fever), bagaimana tindakan yang dilakukan untuk mengatasi tanda
dan gejala yang sedang dialami anak, bagaimana pencegahan dan penanganan yang
tepat, kemudian presepsi keluarga terhadap penyakit anaknya berat atau ringan,
perilaku apa saja yang memicu terjadinya penyakit DHF (Dengue Haemoragic Fever) karena sangat berpengaruh terhadap keputusan
yang di ambil untuk kesehatan anak.
b.
Pola Metabolik – Nutrisi
Status gizi dan
nutrisi anak yang menderita DHF (Dengue
Haemoragic Fever) dapat bervariasi. Semua anak dengan status gizi yang baik
maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor predisposisinya. Anak yang
menderita DHF (Dengue Haemoragic Fever)
sering mengalami keluhan mual, muntah, nafsu makan menurun. Apabila kondisi
berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak
dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.
c.
Pola Eliminasi
Eliminasi alvi (
buang air besar ) kadang- kadang anak mengalami diare ataupun konstipasi.
Sementara DHF (Dengue Haemoragic Fever)
pada Grade III- IV bisa terjadi melena. Eliminasi urin (buang air kecil) perlu
dikaji apakah sering terjadi hematuria.
d.
Pola Aktivitas- latihan
Kaji pasien
mengenai aktivitas kehidupan sehari- hari, keyakinan tentang latihan dan
olahraga, kemampuan untuk merawat diri sendiri, mandiri, bergantung, atau
ketergantungan, penggunaan alat bantu (kruk).
e.
Pola istirahat dan tidur
Tidur dan istirahat
anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami, sakit atau nyeri otot dan
persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya berkurang.
f.
Pola presepsi dan kognitif
Pada tingkat
pengetahuan termasuk dalam presepsi pasien dan juga keluarga pasien, faktor
pendidikan mengenai DHF (Dengue
Haemoragic Fever) sangat berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang.
Semakin tinggi pendidikan seseorang maka wawasan yang dimilikinya akan semakin
luas sehingga pengetahuan juga akan meningkat, sebaliknya ibu akan mempersempit
wawasanya sehingga akan menurunkan tingkat pengetahuan terhadap masalah
kesehatan terutama untuk penyakit DHF (Dengue
Haemoragic Fever). Seseorang yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik
merasa takut akan penularan terhadap penyakit DHF (Dengue Haemoragic Fever).
g.
Konsep diri- presepsi diri
Mengkaji pasien
mengenai keadaan sosial (pekerjaan, situasi keluarga, kelompok sosial),
identitas personal (penjelasan tentang diri sendiri, kekuatan dan kelemahan
yang dimiliki), keadaan fisik segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh yang
disukai dan tidak, perasaan mengenai diri sendiri, ancaman terhadap diri
sendiri (sakit, perubahan peran), riwayat berhubungan dengan masalah fisik dan
atau psikologi.
h.
Pola hubungan- peran
Mengkaji pasien
mengenai gambaran tentang peran berkaitan dengan keluarga dan teman, kepuasan
dan ketidakpuasan menjalankan peran, efek terhadap status kesehatan, pentingnya
keluarga, struktur dan dukungan keluarga, proses pengambilan keputusan
keluarga, struktur dan dukungan keluarga, proses pengambilan keputusan
keluarga, pola membesarkan anak, hubungan dengan orang lain, orang terdekat
dengan klien, data pemeriksaan fisik yang berkaitan.
i.
Pola reproduksi- seksualitas
Mengkaji pasien
mengenai masalah atau perhatian seksual, menstruasi, gambaran perilaku seksual
yang aman, pelukan, sentuhan dll), pengetahuan yang berhubungan dengan
seksualitas dan reproduksi, efek terhadap kesehatan, riwayat kesehatan yang
berhubungan dengan masalah fisik dan atau psikologi, data pemeriksaan fisik
yang berkaitan (KU, genetalia, payudara, rektum).
j.
Pola toleransi terhadap stress- koping
Mengkaji pasien
mengenai sifat pencetus stress yang dirasakan baru- baru ini, tingkat stress
yang dirasakan, gambaran respon umum dan khusus terhadap stress yang biasa
digunakan, pengetahuan dan penggunaan teknik manajemen stress, hubungan antara
manajemen stress dengan keluarga.
k.
Pola keyakinan nilai
Mengkaji latar
belakang budaya atau etnik, status ekonomi (perilaku kesehatan yang berkaitan
dengan kelompok budaya atau etnik), tujuan kehidupan bagi pasien, keyakinan
dalam budaya mitos dan kepercayaan.
(Ariani, 2016)
2. Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda
vital suhu meningkat, tekanan darah pada DHF (Dengue Haemoragic Fever) akan meningkat, sedangkan pada Dengue
Syok Syindrom (DSS) akan menurun, nadi pada DHF (Dengue Haemoragic Fever) takikardi, sedangkan pada DSS dapat cepat
dan lelah serta ada proses penyembuhan bradikardi, pernafasan dapat normal dan
meningkat, pada DSS cepat dan dangkal.
Pengkajian
sistem tubuh meliputi integumen adanya ruam, petekie, ekimosis, purpura,
hematom, hiperemi, sedangkan pada DSS dapat lembab, dingin, dan sianosis, pada
hidung, kuku, kaki, dan tangan. Pemeriksaan mata apakah konjungtiva, hyperemia,
lakrimasi, foto pobia. Sistem kardiovaskuler apakah DHF (Dengue Haemoragic Fever) dapat hipotensi dan hipertensi, takikardi
dan bradikardi. Abdomen adanya hepatomegali, splenomegali dan nyeri tekan
hepar, adanya nyeri sendi dan otot (Rita, 2006).
0 komentar :
Posting Komentar